Selasa, 18 September 2018

GEBYAR MUHARRAM; dari Shaum Sunnah, Budaya Syi’ah, hingga Local Wisdom


Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Shaum Sunnah

Telah dimaklumi dalam Kitabullah, bahwa dalam satu tahun ada 12 bulan, diantaranya ada empat bulan mulia (QS. At-Taubah/9: 36). Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Al-Bazzar dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan, empat bulan (arba’atun hurum) yang dimaksud adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. (Ibnu Katsier, Tafsierul Qur’aanil ‘Azhiem/2, hlm. 322).

Kaitannya dengan shaum sunnah Muharram, di dalamnya ada hari kesembilan (tasu’a) dan hari kesepuluh (‘asyura) yang hakikatnya semua bulan memiliki nama kedua hari tersebut. Namun yang dimaksud di sini adalah hari kesembilan dan kesepuluh di bulan Muharram saja. Sejak kapan penamaan itu populer?, tentunya perlu merujuk pada sumber-sumber periwayatan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Pertama; ‘Asyura telah dipopulerkan sejak zaman Arab jahiliyyah Quraisy, dimana mereka sudah terbiasa melakukan shaum di hari itu. Ketika Rasulullah Saw berada di Madinah, beliau pun shaum dan menyerukan kepada yang lainnya. Setelah datangnya kewajiban shaum ramadhan, para sahabat diberikan pilihan. Bagi yang mau shaum dipersilahkan, bagi yang meninggalkannya tidak apa-apa. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat ‘Aisyah ra.).

Muhammad bin ‘Ali as-Syaukani berkomentar, orang-orang Quraisy melaksanakan shaum, bersandar pada tradisi pendahulu mereka dalam pengagungan kiswah ka’bah. (Asy-Syaukani, Nailul Authaar/2, hlm.321).

Kedua; ‘Asyura merupakan hari yang sangat agung bagi kaum Yahudi, sebahagian mereka shaum dan sebahagiaan lagi menjadikannya hari raya. Mereka meyakini, hari tersebut adalah hari kemenangan, dimana Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan nabi Musa As dan Bani Israil dari musuh-musuhnya. Hal serupa, dilakukan pula oleh kaum Nashrani. (HR. Muslim dan Ahmad dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari dan Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu’anhumaa).

Para mufassir menyebutkan, pelaksanaan ibadah mereka ini, lebih disandarkan pada peringatan keselamatan atau hari kemerdekaan mereka setelah diselamatkannya dari kejahatan rezim Fir’aun sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah/2: 49-50. (Asy-Syaukani, Fathul Qadier/1, hlm. 109).

Ketiga; Shaumnya Rasulullaah dihari kesepuluh bulan Muharram, merupakan haknya sebagai Nabi dan Rasul (bukan karena mengikuti Yahudi), karena sebelum mereka melakukannya, beliau sudah lebih dulu menunaikan. Perkataan “Anaa ahaqqu bi Muusa minkum; aku lebih berhak ketimbang Musa dalam menentukan shaum untuk kalian”. Rasul pun shaum dan memerintahkan para sahabatnya untuk shaum pula. (HR. Muslim)

Namun demikian, para sahabat mengajukan keberatan, sehubungan ada nilai kesamaan (tasyabuh) dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani, sehingga beliau menambahkan hari kesembilannya (yaumut taasi’). Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh menjelaskan: “Ketika Rasulullaah, menunaikan shaumshaum ‘asyura, beliau memerintahkan agar orang-orang pun menunaikannya. Para shahabat bertanya: wahai Rasulullaah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan kaum Yahudi dan Nashrani. Rasul pun menjawab: Jika tahun yang akan datang ada kesempatan, kita akan shaum di hari kesembilannya juga”. Ibnu ‘Abbas menambahkan: “Tahun depan yang disebut-sebut tadi belum tiba, Rasulullaah telah berpulang keharibaanNya lebih dulu” (HR. Muslim/7-8, hlm. 254 no.2661).

Adapun untuk mengukur sejauhmana nilai keutamaan ibadah ini, sahabat Abu Qatadah al-Anshary radhiyallaahu ‘anh menjelaskan: “Bahwa Rasulullaah ditanya tentang keutamaan shaum ‘asyura, beliau menjawab: shaum ‘asyura dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu” (HR. Muslim no. 2740).

Budaya Syi’ah Hingga Local Wisdom

Diantara yang paling menonjol dalam merayakan tradisi ‘asyura adalah kaum Syi’ah dan diantara yang paling berjasa melestarikan upacara-upacara Syi’ah adalah Dinasti Buwaihiyyah (321-447 H). Di samping memperingati hari Ghadir Khum tanggal 18 Dzulhijjah sebagai hari pengangkatan ‘Ali radhiyallaahu ‘anh menjadi penerima wasiat (waashiy) dan khalifah sesudahnya, juga menjadikan 10 Muharram sebagai hari berkabung untuk meratapi wafatnya Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anh. Bahkan pada masa Muiz ad-Daulah Ahmad bin Buwaih, pernah diperintahkan agar seluruh rakyatnya (termasuk penganut Sunni) menutup toko, tidak melakukan transaksi di pasar-pasar, mengenakan pakaian berkabung dan wanitanya meratapi Husein. ‘Abdullah bin Sa’ied al-Junaid dalam bukunya Hiwaarun Haadi Bainas Sunnah was Syi’ah menuturkan: “Perayaan sepuluh Muharram yang disandarkan kepada tanah Karbala (tempat Husein meninggal) dijadikan tanah suci yang disebut turbah husainiyyah, di mana rumah-rumah penganut Syi’ah diletakkan turbah (tanah) tersebut untuk dijadikan perantara dalam bersujud, bahkan mereka menciumnya dan mengambil berkahnya” (Al-Junaid, tp tahun: 111)

Lebih tragis lagi, Mamduh Farhan al-Buhairy dalam bukunya As-Syi’ah Minhum ‘Alaihim, membawakan fakta-fakta keji perayaan mawaakib husainiyyah itu, diantaranya; dengan pakaian serba hitam mereka merobek-robek baju, menampar-nampar pipi, memukul-mukul dada dan punggung, sambil menggotong keranda (tabut) yang disebut kubah Husein seraya mereka berteriak: “yaa Husaiin ... “. Disela-sela ritus Yahudiyyah, mereka mendidik agar anak mereka membiasakan menangis agar nanti terbiasa dalam meratap, bahkan diantara mereka ada yang memaksakan memukul kepala dengan pedang dan rantai besi ke dada mereka hingga berlumuran darah. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa (qurbah). (Al-Buhairy, 2001: hlm. 232).

Untuk menjawab berbagai pihak yang dianggapnya sebagai fitnah dan tuduhan terkait semangat ‘asyura, seorang penulis Syi’ah Ali Ashgar Ridhwani menyususn sebuah buku dengan judul ‘Asyura dan Kebangkitan Imam Husain; Menjawab Fitnah dan Tuduhan. Buku ini diterbitkan Nur Al-Huda, IIC Jakarta.

Dengan keyakinan seperti itu, jelas mereka telah menyalahi ajaran shabar dan ihtisaab, yaitu pencarian pahala sabar dan ridha Allah. Dalam waktu yang sama, ajaran ini pun sangat bertentangan dengan sabda Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam: “Bukanlah golongan kami, orang yang suka menampar-nampar pipi dan merobek-robek baju dan berseru dengan seruan jahiliyyah.” (HR. Al-Bukhari dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anh, Mukhtashar Shahieh al-Bukhari no. 621, hlm.199).

Pada fase berikutnya, kini budaya tersebut mengalami perubahan dalam bentuknya yang berbeda pula, disamping masih banyak yang mempertahankan keasliannya (walau hanya memukul-mukul dada dan kepala dengan tangan). Seiring perkembangannya, dengan alasan kearifan lokal (local wisdom), tradisi bubur suro di Tatar Pasundan sempat membudaya, tabot di Bengkulu, tabuik di Pariaman dan tari seudati (disandarkan pada kata sayyidah Fathimah Az-Zahra) di Aceh sampai kini masih lestari. Bahkan yang lebih familiar seperti pencucian barang pusaka dan grebeg muharram di tempat-tempat tertentu di tanah Jawa ini menjadi pesona wisata tersendiri. Demikian pula yang terkait dengan ibadah-ibadah sosial, tidak luput dari irisan yang dikaitkan dengan sepuluh Muharram seperti halnya istilah populer lebaran anak yatim yang dihubung-hubungkan dengan keutamaan sedekah (shadaqah) di bulan ini dimana Sayyidina Husein wafat. Artinya, istilah yang disematkan kepada keutamaan sedekah dan memelihara anak yatim, tidak mesti dihubung-kan dengan keutamaan bulan Muharram yang sudah jelas tuntunannya.

Kembali ke hari ‘Asyura, Syaikh ‘Ali Mahfuzh (Guru Besar Al-Azhar Mesir) dalam kitabnya Al-Ibdaa’ Fie Madhaaril Ibtidaa’ memberikan pandangan singkatnya dengan menukil pendapat ‘Allaamah Ibnu al-‘Izz al-Hanafi sebagai berikut: “Tidak ada keterangan yang shahieh dari Nabi mengenai ‘asyura melainkan shaumnya saja.” (Lihat ‘Ali Mahfuzh, 1985: hlm. 330-337).

Semoga Rabbul ‘Aalamien memberikan keberkahan seberkah bulan Muharram yang dianugerahkanNya dan menghindarkan kita dari segala bentuk pengingkaran dan penyimpangan yang terjadi di dalamnya. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin ... Wallaahul musta’an.
 ___________
Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah);
Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat);
Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat;
Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah; dan
Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta.
____________
Risalah Jum’ah edisi 4 Muharam 1440 H – 14 September 2018 M
risalahjumah.persis@gmail.com         

Senin, 20 Maret 2017

Uang Rupiah Tahun Emisi 2016 (Uang NKRI)

No 18/ 104 /DKom

SIARAN PERS
Presiden RI Resmikan Pengeluaran dan Pengedaran Uang Rupiah Tahun Emisi 2016



Presiden Republik Indonesia meresmikan pengeluaran dan pengedaran 11 (sebelas) pecahan uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2016, hari Ahad, 19 Desember 2016, di gedung Bank Indonesia, Jakarta. Peresmian sekaligus menandai bahwa sebelas pecahan uang tersebut mulai berlaku, dikeluarkan, dan diedarkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesebelas uang Rupiah TE 2016 terdiri dari 7 (tujuh) pecahan uang Rupiah kertas dan dan 4 (empat) pecahan uang Rupiah logam. Uang Rupiah kertas terdiri dari pecahan Rp100.000 TE 2016, Rp50.000 TE 2016, Rp20.000 TE 2016, Rp10.000 TE 2016, Rp5.000 TE 2016, Rp2.000 TE 2016 dan Rp1.000 TE 2016. Sementara itu, untuk uang Rupiah logam terdiri dari pecahan Rp1.000 TE 2016, Rp500 TE 2016, Rp200 TE 2016 dan Rp100 TE 2016.

Peresmian pada hari ini bertepatan pula dengan peringatan Hari Bela Negara. Sejalan dengan semangat bela negara, Uang Rupiah TE 2016 menampilkan dua belas gambar pahlawan nasional sebagai gambar utama di bagian depan uang Rupiah. Pencantuman gambar pahlawan tersebut merupakan bentuk penghargaan atas jasa yang telah diberikan bagi negara Indonesia. Selain itu, semangat kepahlawanan dan nilai-nilai patriotisme para pahlawan nasional diharapkan dapat menjadi teladan, khususnya bagi generasi muda Indonesia.

Untuk lebih memperkenalkan keragaman seni, budaya, dan kekayaan alam Indonesia, uang Rupiah kertas menampilkan pula gambar tari nusantara dan pemandangan alam dari berbagai daerah di Indonesia. Keragaman dan keunikan alam dan budaya yang ditampilkan dalam uang Rupiah diharapkan dapat semakin membangkitkan kecintaan terhadap tanah air Indonesia.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang), Rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI. Rupiah merupakan salah satu simbol kedaulatan negara yang wajib dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan uang Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah NKRI termasuk di daerah terpencil dan daerah terluar Indonesia. Penghargaan warga negara Indonesia pada mata uangnya sendiri diharapkan semakin mendorong berdaulatnya Rupiah di negeri sendiri.

Pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah TE 2016 pun merupakan salah satu pelaksanaan amanat UU Mata Uang. Sesuai undang-undang, persiapan pengeluaran uang Rupiah TE 2016 telah dilaksanakan oleh Bank Indonesia berkoordinasi dengan Pemerintah. Sebagai tindak lanjut dari koordinasi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden No. 31 Tahun 2016 tanggal 5 September 2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Sebagai Gambar Utama Pada Bagian Depan Uang Rupiah Kertas dan Rupiah Logam Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Selanjutnya, landasan hukum mengenai pemberlakuan, pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah TE 2016 diatur melalui 18 (delapan belas) Peraturan Bank Indonesia dengan rincian sebagai berikut:

1.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/29/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 213). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/34/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 100.000 (Seratus Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 218).

2.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/22/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 50.000 (Lima Puluh Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 205). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/24/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 50.000 (Lima Puluh Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 207).

3.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/30/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 20.000 (Dua Puluh Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 214). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/35/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 20.000 (Dua Puluh Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 219).

4.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/23/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 10.000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 206). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/25/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 10.000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 208).

5.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/31/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 5.000 (Lima Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 215). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/36/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 5.000 (Lima Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 220).


6.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/32/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 2.000 (Dua Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 216). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/37/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 2.000 (Dua Ribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 221).

7.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/33/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 1.000 (Seribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 217). Selain itu, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/38/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 1.000 (Seribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 222).

8.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/26/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Logam Pecahan 1.000 (Seribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 209).

9.    Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/27/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Logam Pecahan 500 (Lima Ratus) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 210).

10.  Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/28/PBI/2016, tanggal 25 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Logam Pecahan 200 (Dua Ratus) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 211).

11.  Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/39/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Logam Pecahan 100 (Seratus) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 223).

Dengan berlakunya uang Rupiah TE 2016 ini, uang Rupiah yang beredar saat ini masih tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran.





Jakarta, 19 Desember 2016
Departemen Komunikasi



Tirta Segara
Direktur Eksekutif


Seputar uang baru, buat yg lagi tabayyun. Informasi resmi, insya allah sahih. Info lebih detil bisa ke: http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Documents/FAQ-Uang-Rupiah-TE-2016.pdf

*Bank Indonesia Cetak Rupiah Sesuai Kebutuhan Masyarakat*

Dalam pelaksanaan tugas di bidang pengelolaan uang Rupiah, Bank Indonesia melakukan pencetakan Rupiah sesuai kebutuhan masyarakat. Bank Indonesia senantiasa memastikan kebutuhan uang tunai masyarakat dapat tersedia dalam jumlah yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi layak edar. Sebagai bagian dari siklus pengelolaan uang, Bank Indonesia secara rutin melakukan penarikan uang yang tidak layak edar di masyarakat dan menggantikannya dengan uang dalam kondisi layak edar atau yang baru dicetak. Demikian pula, uang Rupiah Tahun Emisi 2016 dicetak dan diedarkan untuk menggantikan uang tidak layak edar yang ditarik, sehingga tidak menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dengan siklus tersebut, jumlah uang yang beredar di masyarakat tetap terjaga sesuai kebutuhan.

Dengan monitoring yang ketat, Bank Indonesia memastikan bahwa jumlah uang yang ditarik dan dimusnahkan dari waktu ke waktu tidak pernah lebih dari yang dicetak dan diedarkan ke masyarakat. Dengan demikian, tidak terdapat tambahan pencetakan dan pengedaran uang dari jumlah yang ditetapkan Bank Indonesia. Bank Indonesia meyakini bahwa Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang melakukan pengedaran dan penarikan uang Rupiah. Pemusnahan uang diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dan setiap tahunnya tercatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 2011, pencetakan Rupiah dilakukan oleh Bank Indonesia, dengan menunjuk badan usaha milik negara, yaitu Perum Peruri, sebagai pelaksana Pencetakan Rupiah. Bank Indonesia menegaskan bahwa pencetakan uang Rupiah Tahun Emisi 2016 dilakukan seluruhnya oleh Perum Peruri. Dalam proses pencetakan, Bank Indonesia menyerahkan bahan uang kepada Perum Peruri dalam jumlah tertentu. Perum Peruri kemudian melaksanakan pencetakan uang dan menyerahkannya kembali ke Bank Indonesia, dengan jumlah sesuai dengan bahan uang yang diserahkan oleh Bank Indonesia. Dalam proses ini, dilaksanakan pula verifikasi/penghitungan ulang oleh Bank Indonesia.

Pengelolaan uang Rupiah dilaporkan Bank Indonesia secara periodik setiap 3 (tiga) bulan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Selain itu, untuk menjamin akuntabilitas pelaksanaan pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan Rupiah, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) melakukan audit secara berkala terhadap Bank Indonesia. Pelaksanaan audit oleh BPK-RI dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun, terdiri dari audit umum dan audit terkait pengelolaan uang.

Jakarta, 22 Desember 2016
Departemen Komunikasi Bank Indonesia

Tirta Segara
Direktur Eksekutif



Jumat, 17 Maret 2017

Pesona Embung Banjaroya, Puncak Suroloyo, dan Kebun Teh Nglinggo Kulonprogo

Yogyakarta tersohor sebagai kota Pariwisata, banyak sekali destinasi  wisata yang dapat kita sambangi untuk melepas penat rutinitas harian.
Kali ini kita akan jalan jalan ke sisi Barat DI. Yogyakarta yaitu di Kabupaten  Kulonprogo, setidaknya ada tiga tempat yang recomended,.

1. Embung  Banjaroya
Panorama Alam  yang hijau Pegunungan serta Bukit dapat kita nikmati di tempat ini. Jika cuaca cerah akan terlihat Indahnya SunSet Pagi hari serta deretan Gunung  Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Sumbing, Slamet, Sindoro,.

Di tempat ini pun disediakan gazebo sebagai tempat istirahat kumpul keluarga sembari menikmati indahnya sajian alam.
Bagi pecinta buah durian, disini pun terdapat banyak pohon durian dari berbagai jenis varietas. Tentunya ketika sudah musimnya berbuah akan lebih menarik untuk berkunjung kesini. Dan Patung Durian Raksasa terdapat  di tempat ini sebagai maskot serta sebagai penyambut kedatangan pengunjung.

Karena Embung sendiri merupakan mini waduk buatan di dataran  tinggi yang bertujuan sebagai pengairan untuk lahan  perkebunan maupun pertanian untuk daerah sekitarnya ketika musim  kemarau, diluar musim itu dimanfaatkan sebagai kolam ternak ikan dan para pengunjung dapat memberi makan ikan yang ada di embung dengan membeli pakan yang telah tersedia (2k/pakan). Pengunjung Keluarga yang membawa serta anaknya paling senang akan fasilitas ini.

Untuk tiket masuknya sendiri hanya membayar untuk parkir saja (2k/motor & 4k/mobil).

2. Puncak Suroloyo
Jarak yang tidak jauh dari destinasi pertama sekitar 15menit perjalanan, kita berlanjut ke destinasi kedua.
Empat tokoh pewayangan  jawa yakni Punokawan Pandawa menyambut kedatangan kita di Puncak Suroloyo ini. Selain sebagai maskot juga menjadi spot foto terbaik disini.
Setidaknya ada empat spot foto menarik ketika baru sampai, belum naik kepuncaknya.
Di puncaknya sendiri kita disuguhkan pemandangan alam dari ketinggian, lebih tinggi dari destinasi sebelumnya dan untuk mencapai puncak harus berjuang menaiki banyaknya anak tangga terlebih dahulu.
 Rasa capek akan terbayar ketika sampai puncak dengan pemandangan yang menyejukkan mata.
Diatas sini terdapat menara suar yang sudah tidak aktif serta patung Dewi Sinta menurut kepercayaan agama hindu dan masih digunakan  oleh sebagian orang untuk beribadah.

Berbeda  dengan sebelumnya untuk masuk ke tempat ini dikenakan tarif masuk (5k/org) dan parkir kendaraan.

3. Kebun  Teh Nglinggo
Orang banyak belum tahu di Yogyakarta ada kebun teh, iyah memang benar baru akhir  tahun 2016 tempat ini populer hingga banyak wisatawan datang untuk membuktikan adanya tempat ini.

Hijaunya dedaunan dari pohon teh sangat memanjakan mata diiringi hembusan angin sepoy-sepoy menambah kenikmatan berada di  tempat ini. Hamparan pohon teh menjadi spot foto menarik dan tersedianya warung dengan sajian menu sederhana menambah betah untuk berlama lama menikmati suasana.
Tarif parkir kendaraan saja yang mesti kita keluarkan ketika masuk tempat ini dari arah Puncak Suroloyo.

Demikianlah sedikit ulasan 3 destinasi wisata alam yang ada di Kulonprogo, semoga bermanfaat dan tunggu ulasan lainnya,.  :-)



Minggu, 22 Januari 2017

Manfaatkan Waktu Liburan dengan Sosialisasi Kampus


Waktu liburan identiknya digunakan untuk berwisata ke tempat hiburan bareng sahabat dan keluarga. Berbeda dengan Arina, Ifah, dan Maila Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang tergabung dalam Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI), mereka memanfaatkan waktu liburan semester kali ini dengan mensosialisasikan kampus yang ada di Yogyakarta ke sekolah-sekolah. SMA/MA yang menjadi tempat menimba ilmu mereka dulu menjadi tujuan utama, yakni yang berada di daerah Ciamis Jawa Barat.

Sabtu (21/1) MA PERSIS Banjarsari menjadi tujuan acara ini.  Sosialisasi kampus (roadshow) merupakan acara rutin dari L-KMPI setiap tahunnya, selain bertujuan untuk mengenalkan adanya komunitas ini di Yogyakarta, tujuan utama lainnya adalah untuk memotivasi siswa/siswi khususnya yang duduk di kelas tiga agar melanjutkan studi nya ke jenjang perkuliahan. Dengan mengenalkan perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta harapannya menjadi gambaran bagi adik-adik dan sedikit menghilangkan kebingungan akan dunia perkuliahan," ujar  Arina Rijki Aulia, selaku koordinator roadshow daerah Ciamis. "Disampaikan pula berbagai jalur masuk perguruan tinggi, beasiswa yang ditawarkan, hingga kehidupan menjadi mahasiswa di Yogyakarta," tambah Arina.

Kegiatan ini disambut baik oleh pihak sekolah. "Kami berterimakasih kepada rekan-rekan dari Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) yang telah memberikan motivasi kepada siswa/siswi kami akan pentingnya mencari ilmu hingga perguruan tinggi, juga atas informasi terkait jalur masuk dan beasiswa. Hal ini mewujudkan kepedulian akan generasi muda berpendidikan. Tentunya hal ini sangat bermanfaat bagi kami," tutur Ade Abdurrahman, Kepala Sekolah MA PERSIS Banjarsari.

Pada kesempatan ini pula disampaikan terkait uang rupiah tahun emisi 2016 yang menjadi viral belakangan ini. Pengenalan uang ini direspon baik oleh siswa/siswi dengan timbul banyak pertanyaan, mulai dari kenapa mesti ada uang baru, bedannya apa sama yang lama, hingga gambar pahlawan yang baru. Dijelaskanlah bahwa uang baru ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya pemalsuan uang rupiah, dengan ditambahnya faktor pengaman, serta selain sebagai alat tukar menjadi media pengenalan pahlawan nasional.

L-KMPI merupakan perkumpulan mahasiswa Yogyakarta yang dulunya pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Persatuan Islam (PPI). Dengan almamater yang sama menjadi faktor penguat kekeluargaan satu sama lainnya. Adanya acara soskam ini atau lebih akrab disebut roadshow, merupakan bentuk kepedulian L-KMPI terhadap adik angkatan yang akan lulus dari pesantren. "Kebingungan kuliah di perantauan yang dulu pernah dialami para senior menjadi latar belakang diadakannya L-KMPI dan roadshow ke tiap pesantren. Karena yang paling penting ketika berada di daerah baru adalah adanya keluarga dekat yang sepemahaman, sebagai penunjang keberhasilan menuntut ilmu di perantauan," pungkas Arin.
Dimuat  di Koran Kedaulatan Rakyat (KR)  Rubrik Swara Kampus (SwaKa)  edisi Selasa 31  Januari 2016

Kamis, 12 Januari 2017

SKY Menerangi Jalan Syurga

SKY Menerangi Jalan Menuju Masjid
Sabtu (7/1) Shodaqoh Kulla Yaum (SKY) yang merupakan sebuah komunitas yang berfokus pada amal usaha untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dibidang sosial, pendidikan, maupun kesehatan, kembali menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial. Kali ini SKY menyelenggarakan kegiatan berupa Pengadaan Penerangan Jalan Menuju Masjid dan Bazar Pakaian Murah di Dukuh Tanjung, Kelurahan Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo. "Pedukuhan Tanjung ini merupakan salah satu dukuh di kecamatan Kalibawang yang memang masih minim fasilitas penerangannya, terutama di jalan-jalan menuju masjid. Dengan adanya kegitan bakti sosial menerangi jalan menuju masjid ini diharapkan dapat memfasilitasi, dan menambah semangat umat muslim yang hendak beribadah di masjid," ujar Milzamulhaq Mardiya, selaku koordinator acara sekaligus Ketua SKY.
Kegiatan ini disambut sangat baik oleh warga sekitar. “Kami sangat berterimakasih kepada teman-teman komunitas Shodaqoh Kulla Yaum (SKY) yang telah memberikan bantuan penerangan menuju masjid dan mengadakan bazar pakaian murah untuk waga Tanjung. Hal ini mewujudkan kepedulian temen-temen SKY terhadap masyarakat sekitar, tentu ini sangat bermanfaat bagi kami,” tutur Kuntarto, selaku Kepala Dukuh Tanjung.
Kegiatan bakti sosial ini dapat terselenggara dengan baik berkat kerjasama antar panitia dan koordinasi yang baik dengan warga Pedukuhan Tanjung, serta dukungan dari berbagai pihak. Komunitas SKY memberikan bantuan berupa pengadaan penerangan di 7 (tujuh) titik sepanjang jalan menuju Masjid Al-Barokah, Tanjung.
Dalam rangkaian kegiatan bakti sosial ini juga diselenggarakan bazar murah aneka pakaian layak pakai, dimana sebelumnya panitia dari SKY ini membuka kesempatan kepada anggota SKY dan luar anggota komunitas untuk dapat ikut berpartisapasi memberikan bantuan berupa uang dan pakaian layak pakai.
Kegiatan Bakti Sosial ini dikuti oleh sekitar 30 anggota SKY, dimana mayoritas adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perjalanan ditempuh dari Kota Yogyakarta menuju Kulonprogo sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor. Kegiatan Bakti Sosial ini  dimulai Pukul 09.30 WIB dan selesai sekitar pukul 14.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan wisata di sekitar lokasi kegiatan yaitu di Puncak Suroloyo, dan Kebun Teh Nglinggo, Samigaluh, Kulonprogo.

“Semoga dengan kegiatan bakti sosial dan wisata bersama ini dapat mewujudkan cita-cita komunitas Shodaqoh Kulla Yaum (SKY), yaitu Bersatu dalam Ukhuwah, Meraih Berkah dengan Sedekah," harap Milzam.
Berita Acara ini berhasil  dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat (KR)  Edisi Selasa, 17  Januari 2017



Created by :
Nuri  Hidayati, Sekum SKY  Yogyakarta

Jumat, 30 Desember 2016

Aksi Sahabat Alam GenBI DIY


Kamis (29/12) Komunitas Mahasiswa penerima Beasiswa Bank Indonesia wilayah Yogyakarta atau yang lebih akrab di sapa GenBI (Generasi Baru Indonesia) Yogyakarta menggelar acara peduli lingkungan yang bernama Aksi Sahabat Alam. Kawasan Hutan Mangrove Baros Bantul menjadi tempat digelarnya acara ini, penanaman 2000  bibit mangrove menjadi acara inti. Selain itu, bersih pantai dan pengadaan sarana tempat sampah serta pembuatan 2 kamar MCK untuk menunjang fasilitas kebersihan.


GenBI DIY kali ini mengajak kaum muda pecinta lingkungan untuk turut berkontribusi dalam acara ini. Sekitar 250 orang peserta terdaftar datang dari berbagai latar belakang, ada yang dari komunitas lingkungan, pecinta alam, hingga yang datang mandiri.
Kebanyakan yang datang adalah kaum muda yang memiliki jiwa kepedulian lingkungan yang tinggi. "Jaga Hijaunya, Nikmati Indahnya menjadi tag line acara ini dengan harapan kenikmatan yang disediakan oleh alam dapat tetap terus dinikmati anak cucu dengan aksi kita menjaga hijaunya," ujar Calixtus Crishna Andhika dalam sambutannya, selaku ketua panitia.

"Menanam bibit mangrove merupakan langkah awal yang mudah untuk menjaga lingkungan kita agar tetap asri. Selain untuk pencegah abrasi dan tsunami hutan mangrove ini pun menjadi pelindung ekosistem disekitar pantai. Mudah mudahan acara ini bukan yang terakhir, akan tetapi menjadi langkah awal untuk gerakan kaum muda peduli lingkungan," imbuh Dwi, perwakilan Komunitas Pemuda Pemudi Baros (KP2B)

Dari pihak KPW BI Yogyakarta sendiri hadir dalam acara ini diwakili oleh Bapak Hilman Tisnawan selaku Deputi KPW BI Yogyakarta. "Pihak Bank Indonesia sangat mengapresiasi kegiatan GenBI Aksi Sahabat Alam ini, dengan adanya program ini membuktikan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, juga terhadap sosial karena mampu mengajak teman-teman dari berbagai komunitas untuk hadir dalam acara ini, acara ini juga mendidik kita agar selalu menjaga alam supaya kenikmatan yang disediakan dapat ternikmati oleh anak cucu kita kelak, dan yang terpenting dari acara ini adalah GenBI mampu berdedikasi untuk negeri" pesan beliau.

Para peserta terlihat bersemangat ketika dimulainya penanaman bibit mangrove, meskipun mesti berbasah basahan tak menyurutkan tekad mereka. Dengan kebersamaan serta berbekal bibit, patok, dan alat tanam, mereka segera beraksi.
"Senang rasanya bisa berkontribusi untuk lingkungan, walaupun harus nyemplung basah basahan capek, semuanya terbayar dengan terjaganya keasrian alam ini" ucap Antari, salah satu peserta.

Selain tanam mangrove dan reresik pantai, pada acara ini pula GenBI Yogyakarta mensosialisasikan Uang Tahun Emisi 2016 yang baru diresmikan langsung oleh Presiden RI Bapak Jokowi beberapa waktu lalu.
Hal ini bertujuan untuk mengedukasi peserta utamanya terkait ciri-ciri keaslian nya, dan disampaikan pula bahwa uang ini diluncurkan untuk mencegah terjadinya pemalsuan. Besar harapan dengan sosialisasi ini masyarakat umum yang diwakili para peserta dapat memahami maksud dan tujuan diluncurkannya serta dapat tecerahkan dari isu yang beredar.

Langit sore hari mengakhiri seluruh rangkaian Aksi Sahabat Alam mulai dari tanam mangrove bersama hingga pengenalan Uang Tahun Emisi 2016. Semoga acara ini bisa menginspirasi banyak orang agar selalu berdedikasi untuk negeri baik dari segi lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Salam GenBI "Energi Untuk Negeri!!!"

Minggu, 25 Desember 2016

Peresmian Rumah Baca GenBI Regional Yogyakarta


Sabtu (24/12) Generasi Baru Indonesia (GenBI) Regional Yogyakarta mengadakan Peresmian Rumah Baca di Pedukuhan Tamanan Wetan RT 04, Tamanan, Banguntapan, Bantul. GenBI sendiri merupakan Komunitas Mahasiswa penerima Beasiswa Bank Indonesia dari UGM, UIN, dan UNY. Peresmian Rumah Baca GenBI ini adalah salah satu dari rangkaian acara GenBI Days. Dimana ada empat aspek yang menjadi tujuan GenBI Days, yakni aspek pendidikan, sosial, kesehatan, dan lingkungan. Rumah Baca sendiri masuk kedalam aspek pendidikan, dan akan menjadi kegiatan pengabdian serta diharapkan dapat berkelanjutan sebagai kegiatan GenBI. Rumah baca diperuntukkan bagi anak-anak setempat khususnya, dan semua warga. Pengadaan rumah baca ini dilengkapi dengan buku bacaan, alat tulis dan media belajar. Kegiatan ini mengajak anggota GenBI untuk berperan aktif dalam proses pendirian rumah baca dan pengelolaan rumah baca tersebut.

Pedukuhan Tamanan Wetan RT 04 ini dipilih sebagai lokasi Rumah Baca GenBI setelah sebelumnya di adakan survey lokasi oleh teman-teman panitia GenBI Days. Melihat antusias warga terhadap membaca yang besar khususnya anak-anak, sedangkan fasilitas yang dimiliki kurang memadai menjadi alasan tepat tempat ini dipilih.

GenBI beserta Pemuda Karang Taruna setempat berkolaborasi mempersiapkan segala sesuatunya, dari mulai penentuan tempat hingga apa saja yang diperlukan. Ditentukan lah balai pertemuan RT 04 sebagai tempat peresmian Rumah Baca GenBI ini. Bangunan yang masih setengah jadi ini merupakan hasil swadaya masyarakat setempat, maka pihak BI melalui GenBI ikut membantu salah satunya dengan pengadaan fasilitas rumah baca.
Teman-teman GenBI dalam persiapan peresmian ikut membantu dari mulai mengecat tembok bangunan, hingga saling bahu membahu menata tempat, serta mempersiapkan lain halnya guna mendukung lancarnya peresmian.


Peresmian Rumah Baca ini dihadiri oleh perwakilan dari pihak KPW BI Yogyakarta, yakni ibu Retno Fitrianingsih selaku pembina GenBI Regional Yogyakarta. Beliau menyampaikan dalam sambutannya bahwasanya dari pihak BI sangat mengapresiasi kegiatan GenBI yang satu ini, diharapkan rumah baca ini mampu bermanfaat bagi orang banyak, serta mampu menjadi program yang berkesinambungan sebagai sarana aktualisasi diri para mahasiswa penerima beasiswa. Untuk kedepannya kerjasama ini akan terus berlanjut dengan program BI lainnya, melalui teman-teman GenBI.

Pihak warga yang diwakili oleh Bapak Sriyanto selaku Lurah setempat juga berterima kasih kepada pihak BI yang telah membantu memajukan pendidikan melalui Rumah Baca GenBI ini. Semoga dengan adanya program ini dapat meningkatkan pengetahuan serta pendidikan warga Pedukuhan Tamanan Wetan khususnya dan umumnya bagi masyarakat luas. Mudah-mudahan berawal dari lingkup kecil ini tujuan BI serta GenBI bisa tercapai yakni memajukan pendidikan Indonesia.

Selain acara peresmian Rumah Baca GenBI, pihak BI beserta GenBI pun mensosialisasikan terkait Uang Tahun Emisi 2016, yang baru diresmikan oleh Presiden RI Bpk. Jokowi beberapa waktu lalu. Disampaikan kepada anak-anak dan warga setempat terkait Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah (CIKUR) oleh perwakilan GenBI yakni Sdra Tegar dan Sdri Cahita. Respon terhadap sosialisasi ini sangat baik sekali, dibuktikan dengan banyaknya tanya jawab yang muncul pada sesi ini. Pertanyaan dari  anak-anak pun beragam, mulai dari kenapa mesti ada uang baru, terbuat dari bahan kertas apa, kenapa kok gambar pahlawanya banyak, hingga siapa yang mencetaknya.

Target audience acara ini memang anak-anak, karena diharapkan dari sejak dini bisa membiasakan membaca serta mengetahui tentang mata uang RI. Kurang lebih ada 50 orang anak-anak yang hadir dalam acara ini, mereka semua terlihat senang dengan adanya program ini. Karena selain mendapat fasilitas rumah baca, mereka pun mendapat banyak door prize yang di antaranya pecahan uang baru tahun emisi 2016.

Acara peresmian ini pun diakhiri dengan foto bersama antara pihak BI, GenBI, Pejabat Desa, Karang Taruna, serta anak-anak. Dan semuanya terlihat bahagia,. :-)