Perjalanan bermula dari Bale Kota
Yogyakarta, dimana tiga cowok ganteng sedang menunggu sebut saja mereka ian,
izam, dan malik. Sudah dua jam lebih mereka menunggu, dan akhirnya
berdatanganlah anggota yang lain. Agung, Danil, dan Irma datang bertiga, Sani,
Ogin, Desy, dan Ipeh pun datang melengkapi. Kesepuluh orang ini akan melakukan
perjalanan yang cukup ekstrim menuju Mt. Prau 2565 Mdpl Dieng Wonosobo.
Sabtu (22/11) tepat pukul 16.00
WIB molor 2 jam dari rencana awal perjalanan mereka di mulai dari Balkot menuju
Dieng menggunakan sepeda motor. Para remaja ini berusia 17-20 th berstatus
sebagai Mahasiswa di beberapa Kampus Yogyakarta. Mereka memanfaatkan akhir
pekan kali ini dengan pendakian Mt. Prau 2565 Mdpl.
Waktu tepat menunjukkan pukul
21.00 WIB, dimana mereka sampai di kaki Gunung tepatnya di Basecamp Mt.
Prau. Cuaca yang mendukung dengan tidak turun hujan di musim penghujan ini
menjadikan mereka tambah semangat, karena merasa direstui Allah SWT. Kurang
lebih sejam mereka melakukan persiapan, mengecek semua perlengkapan, dan tiba
saatnya melakukan perjalanan.
Do’a bersama menjadi awal
pendakian, mereka bukanlah orang yang sering naik gunung, sebagian dari mereka
kali ini merupakan pendakian pertamanya (Desy, Ogin, Irma, Ipeh, dan Malik).
Peralatan yang dirasa lumayan cukup, berbekal 2 tenda Dom, alat masak praktis,
serta alat pribadi lainnya seperti matras, jaket, jas hujan, sleeping bag,
sarung tangan, senter, hingga obat pribadi.
Pendakian dimulai, basecamp pun
mulai terlihat jauh dan puncak semakin terasa dekat. Ada 3 pos yang mesti
dilalui untuk mencapai puncak tertinggi sekaligus memasuki daerah tempat
mendirikan tenda. Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 mereka bisa dikatakan
menempuh track lumayan, karena medan masih berupa jalan aspal dan
berbatu yang cukup luas dan merupakan jalan sehari-hari warga menuju ladang. Di
tengah jalan menuju pos 1 tak disangka dan tak diduga Ogin mulai goyah, dia
mengeluh dan merasa capek. Padahal dia datang bukan tanpa persiapan, hampir
tiap minggu ia tak pernah absen untuk lari dari dua bulan sebelumnya.
Teman-teman yang lain tak diam seribu bahasa, namun langsung memberikan
semangat kepadanya. Suasana pun menjadi tambah bersemangat dan Ogin pun bisa
kembali lanjut bersama.

Pos 1 telah mereka lalui, kini
saatnya menuju Pos 2 dimana medan yang
harus ditempuh berupa jalan setapak ladang nan menanjak. Menanggapi medan yang
seperti itu, digunakanlah strategi jalan berbanjar satu orang (ngabaduy). Sani
menjadi pemimpin, karena ia tahu akan jalan sebab ini merupakan pendakian Mt.
Prau ke2nya, diikuti Malik, Irma, Danil,
Ipeh, Agung, Desy, Izam, Ogin, dan Ian sebagai
sweeper. Pendakian
pun semakin terasa berat dengan gelapnya malam dan hanya senter yang menjadi
penerang selain indahnya cahaya bintang serta bulan.
Entah rintangan apalagi yang akan
mereka hadapi menuju Pos 3. Sesaat setelah sedikit beristirahat di Pos 2,
mereka berpapasan dengan pendaki lain yang menyatakan tak lami lagi puncak akan
segera terlihat. Mendengar pernyataan itu semangat mereka pun membara kembali
yang tak sabar ingin segera sampai puncak dan menikmati keindahannya. Jalan pun
terasa semakin menanjak, dengan medan akar pohon yang mesti dilalui. Agak lega
rasanya menemukan seutas tambang yang dimaksudkan untuk sedikit membantu
pendakian, apalagi track yang telah sengaja dipermudah dengan sistem
terasering. Mereka menemukan itu semua menuju Pos 3, terlihat mudah namun
membutuhkan perjuangan ekstra dalam melaluinya.
Akhirnya puncak pun dapat mereka
injak, dimana Pos 3 ternyata merupakan tempat ngecamp. Bahagia mereka rasakan
sesampainya di puncak, akan tetapi itu tak berlangsung lama. Diluar dugaan
mereka, Sani yang sebelumnya telah kesini mengalami kedinginan hampir
hipotermia. Pencegahan pun mereka lakukan, dengan menambah jaket yang ia
kenakan dan memberi ia air hangat dari pendaki lain. Tak cukup hanya disitu,
Sani pun dibawa ke tenda yang baru saja di dirikan oleh Danil. Suasana mencekam
itu pun akhirnya bisa dilewati dengan senyuman yang terpancar dari raut Sani,
menandakan kondisinya membaik.
Waktu menunjukan pukul 01.30 WIB,
dinihari penanda sampainya mereka di puncak. Kurang lebih 3jam pendakian mereka
tempuh, melewati berbagai tantangan dan kondisi. Minuman hangat mereka buat
untuk menghangatkan badan dan itu memang sangat membantu, dan mereka pun dapat
segera tertidur menikmati keindahan malam di ketinggian 2565 Mdpl.
Mentari pagi mulai menampakkan
dirinya dan kesepuluh orang ini telah siap sedia menyambut sajian keindahan
alam itu. Keramaian menyelimuti puncak, karena tak hanya mereka bersepuluh yang
mencapai puncak saat itu. Terdapat puluhan tenda yang berdiri, kurang lebih
ratusan orang ada disana menyambut sinaran pagi.
Sajian alam dipagi itu memang
sangat mengagumkan, tak bisa di ucapkan dengan kata-kata saking indahnya
ciptaan Sang Kuasa. Moment ini pun tak mereka lewatkan begitu saja,
kurang lebih 400 photo berbagai ekspresi menjadi saksi. Mulai dari pose yang
biasa-biasa sampai ter alay menjadi bukti kehadiran mereka di Mt. Prau
2565 Mdpl.
Setelah berasyik-asyik ria dengan
alat potret, untuk menambah keakraban dan keceriaan permainan Uno hadir di
tengah-tengah mereka. Suasana yang semakin mengakrabkan mereka, terutama ketika
bermain Uno membuat Danil mendeklarasikan lahirnya nama rombongan ini. Uno
Trepeleur sontak terucap dari mulut Danil, ditambah sebuah jargon “gak
ada Uno gak rame”. Apalagi gak ada kalian, lanjut ian.
Nama serta jargon tersebut ternyata disetujui oleh semuanya dengan penuh
keceriaan terpancar dari wajah mereka.
Itulah perjalanan awal Uno
Trepeleur, dari Mt. Prau 2565 Mdpl Dieng Wonosobo akan kemanakah cerita mereka
selanjutnya,. Simak kelanjutan kisahnya yaa,. ;) :D