Senin, 02 Maret 2015

ForSEI UIN SuKa Berjaya di TemilReg 2015 FoSSEI Yogyakarta




Forum Studi Ekonomi Islam (ForSEI) UIN Suka berhasil menyabet juara pertama di kedua cabang lomba yang dipertandingkan pada Temu Ilmiah Regional (TemilReg) Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) Yogyakarta. Kedua cabang lomba tersebut adalah Olimpiade Ekonomi Islam dimenangkan ForSEI dengan wakilnya Annisa N Salam, Resti, dan Neneng (Mahasiswi Sem 4 Fak FEBI) serta Paper Presentation Contesdimenangkan ForSEI juga dengan wakilnya Ahmad Mubarok, Ihwan, dan M. Taufik Rido (Mahasiswa Sem 4 Fak FEBI).
“Syukur Alhamdulillaah, pada TemilReg kali ini kami memperoleh double winner, ini berkat kerja keras kita semua selama ini, semoga kemenangan ini menjadi penyemangat untuk acara selanjutnya yaitu TemilNas di Semarang nanti” ucap Presiden ForSEI Salahudin ketika acara berakhir.
Temilreg ini merupakan acara tahunan yang diadakan FoSSEI Yogyakarta, untuk tahun 2015 ini diselenggarakan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, Ahad (1/3) kemarin. Peserta yang mengikuti acara ini berasal dari 7 Perguruan Tinggi di Yogyakarta, diantaranya UIN Suka (ForSEI), UNY (CIES), UGM (SEF), UII (IESC dan FKEI), STEI Hampara (ReLIEF), dan STEI Yogyakarta (AsSSET).
Untuk juara kedua dalam Olimpiade Ekonomi Islam adalah SEF UGM, juara ketiganya AsSET STEI Yogyakarta, sedangkan juara kedua dalam Paper Presentation Contes adalah ReLIEF STEI Hampara, juara ketiganya CIES UNY.
“Mengingatkan kembali kepada semuanya acara ini selain sebagai ajang kompetisi, juga merupakan ajang silaturahmi antar Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) SeYogyakarta” kata Master of Ceremony diacara tersebut Ageng Asmara Sani.

Minggu, 08 Februari 2015

Asupan Semangat Menulis dari Seminar 'Cara Gila Menjadi Penulis Kaya'


University Club Uninersitas Gadjah Madha (UC UGM) menjadi tempat sekaligus saksi akan suatu acara seminar yang memberi asupan semangat menulis kepada saya pribadi. Berawal dari ajakan orang yang sangat mengenal saya akan ketertarikan terhadap dunia kepenulisan dari sejak SMP/MTs, namun sekarang sedang mengalami penurunan kinerja entah karena sebab apa saya sendiri pun tidak tahu.
Pagi tadi pukul 09.00 WIB dihari Sabtu (7/2) saya bersama dia serta peserta seminar lainnya telah memadati tempat acara. Tiga orang Narasumber telah hadir dihadapan kami sebut saja Mas Ahmad Bahar (Motivator Gerakan Indonesia Menulis), Mas R. Toto Sugiharto (Penulis Novel) dan Mas Darmawan B.S (Presenter). 
Muncul pertama Mas Darmawan B.S (Mbah Darmo) membuka acara seminar tersebut, dengan gaya kocaknya dia memulainya. Selain Presenter dia juga seorang penulis, kebanyakan tulisannya berkaitan dengan cara membuat sesuatu serta buku bertemakan humor. Setelah menceritakan pengalamannya yang cukup menginspirasi, dia menyebutkan dari status-status yang kita cetuskan di jejaring sosial bisa kita jadikan sebuah buku dengan mengumpulkannya. 
Mas R. Toto Sugiharto menyampaikan bahwasannya dunia kepenulisan itu menuntut kita agar bisa memutar balikan keadaan 'seironi mungkin'. Seperti halnya ia sebutkan Raditya Dika dalam salah satu filmnya 'Kambing Jantan' mampu melakukan itu dengan cukup baik. Ketika Radit berkunjung ke rumah pacarnya dan bertemu dengan bapak pacarnya yang menanyakan pekerjaan Radit dan ia pun menjawab seorang penulis, dengan sepontan bapak itu berkata "pasti kamu orang miskin kan". Padahal kenyataannya Radit orang kaya raya dengan hasil karyanya. Selain itu kita dituntut untuk menjadi orang yang kreatif dan untuk pasar yang paling potensial untuk penjualan buku adalah kepada pembaca yang termasuk usia produktif tentunya dengan buku-buku bertemakan yang bersangkutan dengan mereka. Mencari masalah dan memetakannya ia sampaikan sebagai kunci dalam membuat suatu tulisan. Untuk mencari masalah itu dapat dilakukan dengan berdiskusi. Mempunyai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ia anjurkan untuk mengecek kosakata, juga yang ia sarankan adalah untuk memperbanyak membaca buku sastra.
Mas Ahmad Bahar menyampaikan asyiknya menulis dapat mengakibatkan panjang umur, sarana penyaluran unek-unek, serta kebebasan yang akan kita peroleh. Menulis itu seperti menanam pohon, ketika kita menanam maka kita akan menuai dan merupakan passive incomeEnterpreuneur writing ia serukan tidak hanya menulis saja, akan tetapi dengan itu kita dapat mendapat sesuatu yang lain yaitu pendapatan berupa materi. Beliau akhirnya menyampaikan cara gilanya, yaitu dengan membuat tulisan yang mencuri perhatian, bekerjasama yang baik dengan penerbit, dan SEDEKAH. Di akhir acara ternyata disematkan rangkaian lainnya, yaitu Cover Book Launch Revolusi Mental 1/2 Hati karya Mas Ahmad Bahar sendiri. 
Kurang lebih tiga jam berlangsung, banyak tambahan ilmu yang didapat serta semangat, tidak sia-sia menghadiri acara tersebut, terimakasih banyak yang sudah ngajak. 
Melihat animo peserta yang besar tidak hanya para mahasiswa, ada banyak dosen senior disana juga orang-orang yang bisa dikatakan sepuh ikut andil, hanya untuk tahu bagaimana cara menulis. Itulah salah satu faktor yang membuat hati ini terenyuh, selain itu menjadi tambahan spirit menulis. 'masa kita kalah semangat sama yang sepuh, mereka juga semangat pengen nulis masa kita nggak yang tak sezaman dengan mereka'.
Semoga virus menulis ini dapat tersebar lebih luas lagi kepada setiap orang di Negeri ini khususnya, agar bisa menjadi Bangsa yang maju, khan salah satu faktornya dari jumlah penulisnya, semakin banyak semakin maju.
Semangat menulis!!!

Selasa, 20 Januari 2015

Roadshow L-KMPI Yogyakarta di Tasikmalaya Ciamis di Tahun 2015 Punya Cerita


Sebagai alumnus Pesantren Persatuan Islam, kami memiliki suatu kepedulian terhadap masa depan adik-adik kami khususnya perihal perkuliahan. Oleh karena itulah, kami khususnya Mahasiswa PERSIS Yogyakarta datang ke berbagai Pesantren PERSIS selain untuk bersilaturahmi, juga bermaksud untuk memberikan berbagai info yang kami miliki dari mulai cara hidup d Yogya, cara masuk ke Perguruan Tinggi, aneka Beasiswa yang tersedia, serta adanya L-KMPI yang sedia selalu membantu. Kegelisahan dan kebingungan yang kami alami dahulu ketika kelas 3 Mu’alimin tentang mau apa setelah lulus, setidaknya dengan hadirnya kami dapat sedikit banyaknya mencerahkan dan mengikis unek-unek tersebut.

Roadshow L-KMPI (Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam) Yogyakarta di tahun 2015 ini terselenggara di beberapa kota secara serempak dari tanggal 19 – 26 Januari, diantara kota-kota yang kami kunjungi adalah Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar. Khusus untuk daerah Tasikmalaya dan Ciamis, kami sampaikan ceritanya, happy reading.. :D

Kala itu menginjak hari Senin (19/1) setelah tiba di rumah di daerah Cikoneng dalam kondisi hujan lebat dordar gelap, sekejap terpikir oleh pemuda bernama Milzam yang berstatus sebagai Mahasiswa PERSIS Yogyakarta selaku ketua Roadshow L-KMPI 2015 tentang langkah awal kegiatan yang dipimpinnya khususnya di daerah Tasikmalaya dan Ciamis. Setelah cukup dirasa istirahat dari perjalanan jauh, ia teringat perihal Pesantren PERSIS mana saja yang akan dikunjungi serta sudah bereskah tentang koordinasi masalah perijinan. Ditanyakanlah kepada akhina Irfan Hidayat selaku Penanggung Jawab (PJ) daerah Tasikmalaya Ciamis. Kejutan atas jawaban menghampiri kala itu, ternyata ada beberapa Pesantren yang belum konfirmasi salah satunya PP1 91 Bantargedang. Setelah mendengarnya terbesit pikiran untuk disudahkan saja kunjungan kesana ditiadakan. Tapi secuil hati ini berbicara agar tak mudah menyerah, bermodalkan bertanya kesana kemari akhirnya didapatlah no kontak Mudir Mu’alliminnya yaitu Ust. Yudi. Meskipun via sms dalam kondisi bisa dikatakan mendadak banget buat acara esok hari, Alhamdulillah izin dari sang Mudirpun didapat.


Hari pertama Roadshow pun dimulai, destinasi pertama ke PPI 91 Bantargedang pada hari Selasa (20/01) tepat pukul 13.00 WIB. Personil yang bisa ikut hari itu ada 4 orang, Milzam, Desy, Teh Risma, sama Agung, selebihnya tidak bisa hadir karena berbagai macam alasan, ada yang lagi KRSan seperti Teh Kikip, ada yang lagi sakit seperti Imam Atqiya, dlsb. Kami berangkat bareng dari rumah Desy ke tempat tujuan memakai mobil.

Sambutan hangat kami rasakan dari pihak Pesantren saat kedatangan kami, berbincang-bincang dengan Mudir serta staf pengajar mengenai Yogyakarta dilalui dengan hangatnya sebelum penyampaian kepada adik-adik kelas 3 Mu’allimin.

Tidak banyak memang santri kelas 3 Mu’allimin disana, tapi semangat untuk melanjutkan mencari ilmu dalam perkuliahan terpancar dari tiap pribadi. Terutama dikala mendengar penyampaian tentang banyak beasiswa yang bisa diperoleh, mengalir deras pertanyaan akan ke tertarikannya mereka. Canda tawa tak lupa hadir dalam moment tersebut menambah keakraban serta keintiman dalam acara itu. Kurang lebih satu setengah jam berlangsung, dari kondisi ramai diluar sampai tiba-tiba sepi. Itulah keberlangsungan hari pertama Roadshow di Tasikmalaya. Next destination for PPI 182 Rajapolah (SMA Plus) dan PPI 80 Sindangkasih (Al-Amin),.


Hari kedua siap menyongsong, segala persiapan telah dirasa cukup waktunya melanjutkan kunjungan. Roadshow pertama dihari kedua ini ke PPI 182 Rajapolah (SMA Plus), setelah mengadakan perjanjian sebelumnya jam 10.00 WIB dimulainya acara, kami sudah berada di lokasi jam 09.30 WIB. Personil yang bisa hadir waktu itu ada Milzam, Aam, Teh Kikip, Teh Risma, sama satu orang Mahasiswi Yogya yang merupakan alumni darisana (Isana). Ternyata acara bisa dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan alasan yang tidak bisa di ungkapkan, hal itu menjadi kebingungan kami sesaat disana terkait jadwal kunjungan kami yang kedua ke Al-amin yang di jadwalkan jam 14.00 WIB akhirnya di batalkan dan di alih harikan. Sempat terbesit rasa kekesalan di hati ini, namun apa boleh dikata mungkin ini sebuah keputusan yang mesti di ambil.

Jam 13.00 pun acara di mulai, di kelas III IPS tepatnya dengan 40 orang santri yang hadir. Perkenalan menjadi langkah awal saat itu, masing-masing dari kami memperkenalkan diri darimana asal dan sekarang kuliah dimana semester berapa, dlsb. Suasana terbilang biasa-biasa tak terlalu sepi dan tak terlalu ramai dalam satu jam pertama penyampaian kami. Hingga tibalah sesi tanya jawab, kami kira akan biasa-biasa aja tahap ini. Ternyata eh ternyata murudul pertanyaan dari sana sini, ada yang bertanya masalah rumah tahfidz bagaimana cara masuknya, pergaulan di Yogya, macam organisasi mahasiswa, beasiswa masuk Perguruan Tinggi, hingga masalah ragamnya pemikiran.

Tak terasa kami disana menghabiskan waktu 2,5 jam, itu pun masih belum cukup masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Dikarenakan waktu yang disediakan telah berlebih, maka dilanjut via no kontak or Fb.


Hari ketiga menjelang, Kamis (22/01) saatnya Roadshow kembali. Rencana hari ini kami berkunjung ke PPI 109 Kujang pada pukul 10.00 WIB dan PPI 07 Cempakawarna pada pukul 14.00 WIB.

Pukul 09.30 WIB kami ber5 Milzam, Desy, Aam, Teh Risma, dan Teh Kikip telah siap sedia dilokasi tepatnya di PPI yang Berstandar Dunia Akhirat yaitu PPI 109 Kujang. Sambutan hangat kami rasakan kembali dari pihak Asatidz akan kehadiran kami disana. Tanpa menunggu waktu lama, kami menuju tempat acara di Lab Pesantren. Adik-adik kelas 3 Mu’allimien telah memenuhi lokasi, dan tidak hanya santri Pesantren Kujang yang hadir, ada juga para santri PPI 01 & 02 Pajagalan disana. Para santri dari Bandung itu kebetulan sedang PLKJ disana, dan mereka menyempatkan untuk ikut dalam acara tersebut. Satu kayuh dua pulau terlampaui,. Hha

Tidak kalah serunya Roadshow di Pesantren ini, malah makin rame dengan canda tawa yang membahana mengiringi penyampaian kami. Maklumlah sebagian dari kami berlima ada tiga orang yang merupakan alumni dari tempat ini. Terpancar kegembiraan dari raut muka mereka akan kehadiran kami, setidaknya menunjukkan akan adanya titik cerah untuk melanjutkan studi mereka.

Dirasa cukup kami bercakap-cakap di Kujang, saatnya pergi ke destinasi selanjutnya yaitu PPI 07 Cempakawarna.

Sesampainya di lokasi dalam keadaan cuaca mendung pertanda akan turunnya hujan, kami disambut hangat oleh pihak Asatidz serta Mudir Mu’allimin (Ust Asep) di sana. Setelah bercakap-cakap dengan para Asatidz, kami langsung menuju ruang kelas dimana adik-adik kelas 3 Mu’alimin telah menunggu. Diserahkanlah acara tersebut sepenuhnya kepada kami, dimana sebelumnya Ust Asep menyampaikan terlebih dahulu sepatah duapatah atas kedatangan kami kepada adik-adik. Hujan pun akhirnya turun di kala penyampaian kami dimulai, kurang lebih 45 menit kami menyampaikan dari mulai survive di Yogya sampai berbagai beasiswa yang bisa diperoleh. Timbul beberapa pertanyaan, khususnya mengenai jurusan favorit di setiap kampus, serta bagaimana cara untuk masuk kesana, tak luput pula tentang beasiswa serta rumah tahfidz dipertanyakan. Antusiasme yang sangat tinggi ditunjukkan oleh mereka untuk kuliah, itu merupakan sebuah sinyal kebaikan yang timbul dari jiwa mereka. Mudah-mudahan saja apa yang mereka inginkan dalam perkuliahan dapat tercapai, Aamiin,.


Destinasi terakhir yang kami datangi adalah PPI 80 Sindangkasih (Al-Amin). Dimana sebelumnya sedikit mengalami masalah, hingga mesti di undur harikan yang awalnya hari Rabu menjadi hari Senin (26/01). Pukul 14.30 WIB (Ba’da Dirasah) jadwal yang telah kami terima, namun ada permintaan mendadak menjadi pukul 14.00 WIB dari pihak Al-Amin. Setelah setuju akan hal itu, kami bergegas kesana dengan 3 orang Personil, Milzam, Desy, dan Aam. Kami pun sampai di tempat  diwaktu yang tepat, ruang kelas menjadi tempat acara berlangsung. Ternyata tidak hanya kelas 3 Mu’allimin yang hadir disana, kelas 2 Mu’alimin pun tertarik untuk ikut pada acara waktu itu.

Meskipun kami ber3 menghadapi adek-adek yang cukup banyak ini, Alhamdulillaah kami dapat mengatasinya dengan baik. Penyampaian seperti biasa telah tersampaikan, dilanjutkan sesi tanya jawab dimana mereka terlihat kebingungan serta malu untuk bertanya. Namun tak sampai tanpa pertanyaan, muncul juga beberapa pertanyaan khususnya mengenai beasiswa dan cara masuk ke ISI (Institute Seni Indonesia). Dirasa cukup karena tak ada lagi pertanyaan, maka diakhiri sudah acara kala itu.

Tak terduga, ternyata setelah ditutupnya acara, dalam kondisi nyantai ketika sedang beres-beres dan hendak keluar ruangan timbul pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang masih ada di ruangan. Sampai adzan ashar berkumandang pun belum berhenti pertanyaan dari mereka, dan adzan mengakhiri perjumpaan kala itu.


Alhamdulillaahhirabbil’alamiin, rangkaian Roadshow L-KMPI di Tasikmalaya Ciamis di tahun 2015 telah terlaksana dengan baik, kekurangan kami sadari masih terdapat dalam pelaksanaan kali ini, mudah-mudahan di tahun depan dapat berlangsung lebih baik. Aamiin,.

Dan sekarang tinggal menunggu siapa aja yang mau datang ke Yogya, khususnya dari hasil Roadshow Kami ke berbagai Pesantren.

Adek-adek kami tunggu kehadirannya di Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Pariwisata,..
Jangan lupa ngotek-ngontek dulu,. ;) :D






Sabtu, 10 Januari 2015

Lahirnya UNO TREPELEUR di Mt. Prau 2565 Mdpl


Perjalanan bermula dari Bale Kota Yogyakarta, dimana tiga cowok ganteng sedang menunggu sebut saja mereka ian, izam, dan malik. Sudah dua jam lebih mereka menunggu, dan akhirnya berdatanganlah anggota yang lain. Agung, Danil, dan Irma datang bertiga, Sani, Ogin, Desy, dan Ipeh pun datang melengkapi. Kesepuluh orang ini akan melakukan perjalanan yang cukup ekstrim menuju Mt. Prau 2565 Mdpl Dieng Wonosobo.

Sabtu (22/11) tepat pukul 16.00 WIB molor 2 jam dari rencana awal perjalanan mereka di mulai dari Balkot menuju Dieng menggunakan sepeda motor. Para remaja ini berusia 17-20 th berstatus sebagai Mahasiswa di beberapa Kampus Yogyakarta. Mereka memanfaatkan akhir pekan kali ini dengan pendakian Mt. Prau 2565 Mdpl.

Waktu tepat menunjukkan pukul 21.00 WIB, dimana mereka sampai di kaki Gunung tepatnya di Basecamp Mt. Prau. Cuaca yang mendukung dengan tidak turun hujan di musim penghujan ini menjadikan mereka tambah semangat, karena merasa direstui Allah SWT. Kurang lebih sejam mereka melakukan persiapan, mengecek semua perlengkapan, dan tiba saatnya melakukan perjalanan.

Do’a bersama menjadi awal pendakian, mereka bukanlah orang yang sering naik gunung, sebagian dari mereka kali ini merupakan pendakian pertamanya (Desy, Ogin, Irma, Ipeh, dan Malik). Peralatan yang dirasa lumayan cukup, berbekal 2 tenda Dom, alat masak praktis, serta alat pribadi lainnya seperti matras, jaket, jas hujan, sleeping bag, sarung tangan, senter, hingga obat pribadi.

Pendakian dimulai, basecamp pun mulai terlihat jauh dan puncak semakin terasa dekat. Ada 3 pos yang mesti dilalui untuk mencapai puncak tertinggi sekaligus memasuki daerah tempat mendirikan tenda. Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 mereka bisa dikatakan menempuh track lumayan, karena medan masih berupa jalan aspal dan berbatu yang cukup luas dan merupakan jalan sehari-hari warga menuju ladang. Di tengah jalan menuju pos 1 tak disangka dan tak diduga Ogin mulai goyah, dia mengeluh dan merasa capek. Padahal dia datang bukan tanpa persiapan, hampir tiap minggu ia tak pernah absen untuk lari dari dua bulan sebelumnya. Teman-teman yang lain tak diam seribu bahasa, namun langsung memberikan semangat kepadanya. Suasana pun menjadi tambah bersemangat dan Ogin pun bisa kembali lanjut bersama.

Pos 1 telah mereka lalui, kini saatnya menuju Pos 2  dimana medan yang harus ditempuh berupa jalan setapak ladang nan menanjak. Menanggapi medan yang seperti itu, digunakanlah strategi jalan berbanjar satu orang (ngabaduy). Sani menjadi pemimpin, karena ia tahu akan jalan sebab ini merupakan pendakian Mt. Prau ke2nya, diikuti Malik, Irma, Danil,  Ipeh, Agung, Desy, Izam, Ogin, dan Ian sebagai sweeper. Pendakian pun semakin terasa berat dengan gelapnya malam dan hanya senter yang menjadi penerang selain indahnya cahaya bintang serta bulan.

Entah rintangan apalagi yang akan mereka hadapi menuju Pos 3. Sesaat setelah sedikit beristirahat di Pos 2, mereka berpapasan dengan pendaki lain yang menyatakan tak lami lagi puncak akan segera terlihat. Mendengar pernyataan itu semangat mereka pun membara kembali yang tak sabar ingin segera sampai puncak dan menikmati keindahannya. Jalan pun terasa semakin menanjak, dengan medan akar pohon yang mesti dilalui. Agak lega rasanya menemukan seutas tambang yang dimaksudkan untuk sedikit membantu pendakian, apalagi track yang telah sengaja dipermudah dengan sistem terasering. Mereka menemukan itu semua menuju Pos 3, terlihat mudah namun membutuhkan perjuangan ekstra dalam melaluinya.

Akhirnya puncak pun dapat mereka injak, dimana Pos 3 ternyata merupakan tempat ngecamp. Bahagia mereka rasakan sesampainya di puncak, akan tetapi itu tak berlangsung lama. Diluar dugaan mereka, Sani yang sebelumnya telah kesini mengalami kedinginan hampir hipotermia. Pencegahan pun mereka lakukan, dengan menambah jaket yang ia kenakan dan memberi ia air hangat dari pendaki lain. Tak cukup hanya disitu, Sani pun dibawa ke tenda yang baru saja di dirikan oleh Danil. Suasana mencekam itu pun akhirnya bisa dilewati dengan senyuman yang terpancar dari raut Sani, menandakan kondisinya membaik.

Waktu menunjukan pukul 01.30 WIB, dinihari penanda sampainya mereka di puncak. Kurang lebih 3jam pendakian mereka tempuh, melewati berbagai tantangan dan kondisi. Minuman hangat mereka buat untuk menghangatkan badan dan itu memang sangat membantu, dan mereka pun dapat segera tertidur menikmati keindahan malam di  ketinggian 2565 Mdpl.

Mentari pagi mulai menampakkan dirinya dan kesepuluh orang ini telah siap sedia menyambut sajian keindahan alam itu. Keramaian menyelimuti puncak, karena tak hanya mereka bersepuluh yang mencapai puncak saat itu. Terdapat puluhan tenda yang berdiri, kurang lebih ratusan orang ada disana menyambut sinaran pagi.

Sajian alam dipagi itu memang sangat mengagumkan, tak bisa di ucapkan dengan kata-kata saking indahnya ciptaan Sang Kuasa. Moment ini pun tak mereka lewatkan begitu saja, kurang lebih 400 photo berbagai ekspresi menjadi saksi. Mulai dari pose yang biasa-biasa sampai ter alay menjadi bukti kehadiran mereka di Mt. Prau 2565 Mdpl.

Setelah berasyik-asyik ria dengan alat potret, untuk menambah keakraban dan keceriaan permainan Uno hadir di tengah-tengah mereka. Suasana yang semakin mengakrabkan mereka, terutama ketika bermain Uno membuat Danil mendeklarasikan lahirnya nama rombongan ini. Uno Trepeleur sontak terucap dari mulut Danil, ditambah sebuah jargon “gak ada Uno gak rame”. Apalagi gak ada kalian, lanjut ian. Nama serta jargon tersebut ternyata disetujui oleh semuanya dengan penuh keceriaan terpancar dari wajah mereka.

Itulah perjalanan awal Uno Trepeleur, dari Mt. Prau 2565 Mdpl Dieng Wonosobo akan kemanakah cerita mereka selanjutnya,. Simak kelanjutan kisahnya yaa,. ;) :D