Jumat, 27 November 2015

Catatan Harian Milzam #2

Kamis, 26 November 2015
Kumandang adzan shubuh membangunkan ku kembali untuk mengawali hari ini, rasa menyesalpun melanda karena belum bisa kembali bangun lebih awal. Belum bisa shalat tahajud lagi hari ini, cedih.
temen-temen yang sedang ngerjain tugas di
Lantai 4 FSH UIN SuKa
Rutinitas yang sama ku kerjakan seperti kemarin, bangun kembali jam 6 tepat siap-siap untuk berangkat kuliah. Empat mata kuliah langsung untuk hari Kamis, mulai masuk kelas jam 7 pagi hingga jam 6 sore. Mata kuliah pertama di hari ini adalah Lembaga Keuangan Islam (LKI) dari jam 07.00-09.30, pembahasannya tentang Obligasi Syari’ah (Sukuk) dengan Dosen Pengampu Pak Yazid Affandi, lumayan cukup boring sih belajarnya ditunjukkan dengan kurang antusiasnya teman-teman di kelas, entah sudah pada paham atau sebaliknya. Mata kuliah kedua adalah Manajemen Pemasaran dari jam 09.45-12.00, pembahasannya tentang manajemen komunikasi dalam pemasaran dengan Dosen Pengampu Bu Widyarini, selama perkuliahan ini metode ceramah beliau gunakan, wajar aja penghuni kelas banyak yang permisi keluar, karena mungkin merasa bosan. Mata kuliah ketiga adalah Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) mulai setelah shalat dzuhur dari jam 12.45-13.30, hari ini Cuma ngisi responsi aja dengan tugas menjelaskan tentang Konten Teori pada Klasifikasi Motivasi, jadinya sebentar, padahal 3 SKS dengan Dosen Pengampu Pak Yusuf Khairuddin. Mata kuliah terakhir dihari ini adalah Kewirausahaan dari jam 15.30-18.00, pembahasannya mengenai studi lapangan yang telah dilakukan. Masing-masing mesti mempresentasikan, dan aku kebagian minggu depan, jadi agak tenang dech.
Suasana dalam Kelas ketika diskusi
Setelah melewati proses perkuliahan yang cukup melelahkan, tiba saatnya untuk niis di Masjid tak lupa menunaikan shalat Maghrib. Kemudian aku ikut kajian ceramah bahasa Arab, pengisinya aku lupa namanya, namun apa yang disampaikan menurutku bagus mengingatkan kita untuk selalu meyakini akan adanya Allah dimanapun kita berada. Selain memperoleh ilmu serta tadzkirah, akupun mendapatkan teman baru yang berasal dari Sunda pada kajian itu. Namanya Yuan, cowok asal Bogor yang baru semester 1 jurusan KPI. Tak sengaja dia mendengarkan percakapan ku dengan Kiki (adik angkatan) menggunakan bahasa sunda, dan langsung saja dia ikut nimbrung membahas berbagai topik sebelum berlangsungnya kajian.  
Hp ku berdering tanda pesan baru masuk, ternyata dari A. hamzah menanyakan kapan pulang ke kos. Aku jawab aja paling jam 8an, soalnya aku mau internetan dulu di kampus. Lebih kurang aku internetan ria, mencari info tentang sedekah rombongan dan sedikit mengupload tulisan. Internetan di akhiri dengan matinya listrik di area kampus yang jarang terjadi, aku pikir mungkin ini saat yang tepat untuk pulang.

Suasana kajian ceramah bahasa arab di Lab Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga
ditemani teh hangat dan sebungkus roti
Sesampainya di kos, kondisi kosong gak ada orang soalnya A. Hamzah lagi ngajar ke atas. Sambil nunggu A. Hamzah aku coba membuka laptop untuk menulis seperti biasa sembari mendegarkan alunan-alunan musik. 


Rabu, 25 November 2015






Dering alarm yang telah di stel jam 3 dinihari membangunkan dari tidurku sejenak untuk mematikannya, kemudian lanjut tidur kembali. Kumandang adzan shubuhlah yang berhasil membangunkan ku dari indahnya dunia mimpi. Raga yang susah inipun ku paksakan untuk melangkah mengambil air wudhu sebagai syarat wajib shalat shubuh. Karena dirasa sudah telat untuk melangkah ke Masjid, akupun terpaksa shalat shubuh di kamar kos.
Selesai shalat shubuh, akupun melanjutkan aktifitas dengan membaca Al-Qur’an, muraja’ah Q.S Al-Baqarah ayat 1 – 70, Q.S An-Naba, An-Nazi’at, ‘Abasa, At-Takwir, hingga Al-Muthaffifin. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, muraja’ah sudah, namun badan ini meminta untuk istirahat tambahan. Akupun terlelap selama sejam.
Terbangun kembali untuk kesekian kalinya, tangan ini langsung memeriksa hp dan benarlah terdapat satu pesan belum terbaca. Ternyata itu dari Putri (temanku), menanyakan jadi ap nggak hari ini survey ke tempat acara Baksos nanti tanggal 17 Januari 2016. Aku jawab aja jadi, dan mesti kumpul jam 7 tepat di depan Poloklinik UIN SuKa. Aku siap-siap mandi dulu sekitar 15 menit, setelah dirasa sudah siap akupun berangkat ke tempat kumpul. Sesampainya di PoliKlinik, ternyata Putri (Sekretaris) telah ada disana, selain dia ada juga Isma (Koor Akomodasi) yang baru nyampe, kemudian akupun menghampiri mereka. Tinggal menunggu satu orang lagi Nurul (Koor Acara), setelah menunggu lebih kurang 15 menit dia pun datang dan kami bergegas menuju lokasi. Sari (Wakil Ketua) telah menunggu disana, karena dia merupakan orang yang merekomendasikan lokasi tersebut buat acara Baksos Nanti.
Sesampainya di lokasi, kami langsung disambut pengurus disana dengan ramah tamahnya. Akupun selaku Ketua Pelaksana menjelaskan maksud dan kedatangan kami ini. Kamipun diantar untuk meninjau lebih jauh lokasinya, banyak ruang-ruang yang bisa dijadikan tempat buat acaranya berlangsung. Akan tetapi, itu semua akan kami pastikan di rapat Senin besok bersama teman-teman Shodaqoh Kulla Yaum (SKY) lainnya.
Jam menunjukkan pukul 11 siang sesampainya di kos setelah survey Lokasi Baksos di daerah Prambanan sana. Ketika masuk kos, terlihat sedang ada tamu di kamar A. Hamzah. Ternyata ada The Ajeng sama A. Arif, mereka sedang merumuskan buat meeting siang ini di hotel terkait pesenan catering yang dipesan pihak hotel pada mereka. Namun, aku mesti beli air gallon dulu sebelum ikut nimbrung bersama mereka, karena air minumnya udah abiss.hhe,.
Mereka bertiga merupakan Owner dari Al-Maidah Catering, sedangkan aku adalah bagian dari mereka meskipun bukan termasuk Owner. Setelah rumusannya dirasa cukup dan waktu dzuhur telah tiba, kami shalat dahulu. Kemudian setelahnya mereka bertiga pergi meeting, dan aku jaga kos.
Setengah 2 A. Hamzah baru pulang meeting, raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Tak lama kemudian dia langsung rehat sejenak untuk persiapan rutinitas setiap rabu sore hingga malem yaitu ngajar TPA anak-anak serta pengajian Ibu-ibu di Pagerjurang Cangkringan di kaki Gunung Merapi.
Setelah shalat Ashar, A. Hamzah bareng Aku bertolak menuju lokasi TPA. Sesampainya disana, Teh Ajeng bareng A. Arif  udah ada duluan disana. Kami berempat membantu Mas Agus guru ngaji disana, mengajar ngaji anak-anak usia SD dari pukul 4 – Adzan Maghrib. Setelah shalat isya dilanjutkan dengan pengajian ibu-ibu hingga pukul setengah 9. Kegiatan ini telah rutin kami jalani lebih kurang 9 bulan. Mudah-mudahan dapat terus berlangsung,. Aamiin,.
Jam setengah 10 aku bersama A. Hamzah baru nyampe kos, aku langsung bersih-bersih motor dan diriku pribadi, setelah itu aku mulai menulis rangkaian kata ini tanpa sepengetahuan A. Hamzah,. Hhee

Setelah dirasa cukup, akupun hendak mau tidur. Gnite everyone,. :D 

Kamis, 26 November 2015

Akhirnya Bisa Mendiami Kosan Idaman

Dua tahun sudah ku mengembara di kota pendidikan ini, demi menggapai cita-citaku menjadi seorang sarjana. Dalam perjalanan ini selama itu aku berkutat dengan orang-orang yang sama saja setiap waktu, karena aku tergabung dalam satu rumah kontrakan.
Jenuh akan kondisi yang begitu-begitu terus, akhirnya ku beranikan diri ini keluar dari zona itu. Kurang afdol rasanya bila merantau tidak merasakan dunia kos. Karena itulah aku pun ditahun ketiga ini menjalani kehidupan sebagai anak kos.
Awal September tahun ini menjadi permulaan perjalanan ku menjadi anak kos, tak tanggung-tanggung ku coba dengan menempati rumah kosan yang lumayan jauh dari Kampus.  Pilihan itu ku pilih karena lebih dekat dengan tempat dimana aku bekerja serta bisa lebih dekat dengan orang-orang yang berpengaruh positif terhadap diriku ini.
Puji Syukur Alhamdulillaah tak hentinya aku ucapkan atas nikmat yang diberikan oleh-Nya pada diri ini. Bisa menempati rumah kos yang begitu enak serta nyaman ini, dengan uang bulanan Rp 300.000 bisa mendapat kamar yang cukup luas (2,5 m x 2,5 m) berkramik, warna cat yang cerah, terdapat lampu tidurnya, kamar mandi luas, ada tempat nyuci, dapur, serta halaman yang luas. Kita bisa bawa barang apapun, kecuali kulkas dan reskuker. Yang paling membuat ku bersyukur bisa berada disini adalah Bapak serta Ibu Kosnya super baik, sudah ku anggap seperti orang tua sendiri. Tiap jam 3 pagi tak lupa untuk membangunkan, mengingatkan untuk shalat tahajud serta shalat 5 waktu di Masjid.

Ketenangan jiwa ku peroleh disini yang berakibat positif pada perkuliahan serta pekerjaan ku. Alhamdulillaahh k uterus bersyukur pada-Mu ya Allaah atas pemberian setiap nikmat-Mu. Semoga ini semua menjadi perjalanan untuk menggapai kesuksesan ku di dunia serta di akhirat kelak.


Halaman depan Kosan yang banyak ditumbuhi bunga" dan Tanaman

lorong antara kamar kos
salah satu kamar kos


ruang dapur

kursi buat santai di dapur

Halaman pinggir kamar

Salah satu Bunga yang mekar di halaman pinggir kamar

Selasa, 20 Oktober 2015

SBTC ForSEI ‘15

Ruang Rapat Lantai 2 Gedung PKSI Timur UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi saksi bisu atas terselenggaranya Pelatihan Perbankan Syari’ah yang diadakan berkat kerja sama Forum Studi Ekonomi Islam (ForSEI) UIN SuKa dengan Sharia Banking Training Center (SBTC). Pelatihan tersebut ditujukan bagi seluruh pihak yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Dunia Perbankan Syari’ah.
Sekitar 40 orang yang menjadi peserta di acara tersebut, mayoritas berasal dari kalangan Mahasiswa. Tidak hanya dari wilayah Yogyakarta, ada pula peserta yang berasal dari IAIN Ponorogo.
Selama dua hari dari Sabtu-Ahad (17-18/10) para peserta di fasilitasi oleh fasilitator berkompeten dari beberapa Perbankan Syari’ah di Yogyakarta, diantaranya dari Bank Muamalat, BNI Syari’ah, Mandiri Syari’ah, BRI Syari’ah, dan Bank Syari’ah Bukopin. Semua fasilitator mayoritas sebagai kepala cabang di masing-masing perbankan.
Bapak Tulus Widodo selaku Direktur SBTC menyampaikan, banyak alumni SBTC ini yang telah sukses di dunia perbankan syari’a setelah mengikuti acara seperti ini. Telah ada yang berhasil menjadi Kepala Cabang di Bank Syari’ah Bukopin, serta banyak pula yang menjadi SPV dan petinggi lainnya di berbagai perbankan.

Oleh karena itu, bagi temen-temen yang belum ikutan SBTC, segeralah mengikuti acara ini. Sangat banyak manfaat yang kita terima, khususnya bagi yang mau magang, PKL, bekerja di Bank dan lain sebagainya.

Kamis, 18 Juni 2015

Keutamaan Ilmu



Melakukan suatu perkara perlu adanya ilmu yang mendasar akan hal tersebut. Jika tidak, perkara yang tadinya diharapkan baik hasilnya akan berbuah sebaliknya. Semua anggota badan ini akan menjadi saksi atas setiap perkara yang kita kerjakan, baik berbuah manis atau sebaliknya.
Dalam QS. Az-Zumar : 9, Allah memberikan pertanyaan kepada kita yang menuntun kita agar memperhatikan antara manusia yang berbakti ta’at beribadah sepanjang malam sambil sujud dan berdiri (shalat, tadarus, dan amal shaleh lainnya) dibarengi dengan rasa takut akan adzab akhirat dan mengharap rahmat dibandingkan dengan manusia yang tidak seperti itu. Sebagai contoh antara orang yang menghambur-hamburkan waktu dengan orang yang bekerja lembur. Orang yang menghambur-hamburkan  waktu, mereka tidak akan mendapat apa-apa selain waktu yang terbuang percuma. Sebaliknya dengan orang yang bekerja lembur, ia akan mendapat pahala lebih terhadap pekerjaannya sebagai usaha ia dalam mencari nafkah.
Hal berbeda akan terasa ketika dalam sebuah kumpulan terdapat saling memberikan support antar sesama untuk melakukan kebaikan, membahas keilmuan dengan saling bertukar pikiran, dsb. Itulah yang diharapkan akan adanya suatu kumpulan yang terbentuk demi kebaikan kita bersama.
Kenyataan yang berbicara bahwasannya kita lebih pandai untuk menilai orang lain daripada diri sendiri. Pepatah mengatakan semut disebrang lautan nampak jelas terlihat akan tetapi gajah di pelipis mata sendiri terabaikan. Masih dalam QS. Az-Zumar ayat sembilan ini kita ditanya oleh Allah SWT, “Apakah sama antara manusia yang berilmu dengan yang tidak berilmu?”. Pertanyaan ini bukan untuk dijawab dengan lisan, melainkan menjadi bahan renungan kita semua. Sebagai contoh kita melihat perbedaan antara seorang dokter dengan seorang pengembala, ketika mereka kehausan. Bagi seorang pengembala ketika hal tersebut menimpa dirinya, yang akan ia lakukan adalah mencari air yang menurut ia jernih dan langsung meminumnya. Berbeda dengan seorang dokter ,ia akan memasaknya terlebih dahulu. Karena dokter tahu air yang jernih belum tentu baik untuk diminum langsung, masih terdapat bakteri serta kuman yang tidak nampak dan berbahaya bagi tubuh. Dari contoh tersebut nampak jelas perbedaan orang yang berilmu dengan yang tidak.
Dalam kenyataan tidak dipungkuri bahwa hal tersebut di atas bisa berbalik, yakni ketika orang yang berilmu tidak mengamalkan ilmunya. Hal itu membuktikan bahwa ilmu yang ia miliki tidak memberikan penerangan dalam hidupnya.
Banyak amal tanpa adanya ilmu yang mendasari, bisa celaka. Sebagai contoh, terlihat asik dan menyenangkannya orang yang berkendara baik motor ataupun mobil di jalan raya. Keasyikan yang terpancar dari para pengendara membuat si A tertarik untuk mencobanya, padahal ia sebelumnya tak pernah berkendara dan tak tahu pula caranya. Sebuah motor yang menganggur lantas ia coba, wal hasil apa yang terjadi, ia terjatuh dan tersungkur tak jauh dari tempat semula. Itulah akibat dari ketidak tahuan akan sesuatu. Disini si A tidak tahu dasar berkendara sudah mencoba membawa motor, bukan keasyikan yang didapat malah celaka yang diraih.
Dasar ilmu keberadaannya sangat penting. Di dunia saja mesti memakai ilmu, begitu pun bagi kehidupan akhirat. “ Faman araada dunya fa’alaihi bi ‘ilmin, waman araadal aakhirat fa’alaihi bi ‘ilmin, Barang siapa yang ingin sukses di dunia mesti memakai ilmu, begitu pun bagi kehidupan akhirat mesti memakai ilmu”.
Di penghujung QS. Az-Zumar ayat 9 di sebutkan kalimat Ulul Albab. Ulul Albab disini berarti manusia yang mengoptimalkan akal pikiran, yang siap terbuka hatinya untuk menerima segala ilmu dan mengamalkannya. Maka dari itu kita mesti mengoptimalkan diri ini agar menjadi manusia yang mengoptimalkan akal pikiran, yang siap terbuka hatinya untuk menerima segala ilmu dan mengamalkannya. Menjadi orang yang berilmu dan mengamalkannya.
Ayat di atas menunjukkan kepada kita akan sebuah rahasia yang begitu luar biasa, dari awal ayat ini menjelaskan mengenai amal dan diakhiri dengan hal meneruskan ilmu. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan/keistimewaan manusia termasuk pada dua hal ini, yaitu ilmu dan amalnya. Amal bukan dilihat dari banyaknya, akan tetapi pada baik atau tidaknya amal tersebut. Menentukan baik dan tidaknya didasari pada ilmu suatu amal tersebut.
Imaanan wah tisaaban, menjadi syarat kesempurnaan ibadah shaum. Dengan keimanan dan penuh perhitungan, mencari tahu bagaimana shaum kita ini menjadi ibadah maqbul yang dirindukan syurga.
Tidak setiap orang yang shaum mendapatkan pahala. Shaum bukan hanya menahan lapar dan dahaga, akan tetapi menahan nafsu dan syahwat serta dari segala sesuatu yang membatalkan juga dari perkara yang dapat mengurangi pahala shaum, itu semualah yang menjadi tantangan.
Shaum sebagai istighfar kita kepada Allah SWT. Bahkan setelah shalat, kita dianjurkan untuk beristighfar. Padahl kita bukan telah melakukan hal yang negatif. Juga setelah peristiwa Fathu Makkah, kita diberi contoh untuk beristighfar yang dimana itu merupakan hal yang baik.
Fungsi ilmu begitu luar biasa, sebagai penerang di kehidupan (Al’ilmu nuurun). Dalam upaya memperoleh ilmu, hal tersebut sudah termasuk di jalan Allah (Fii sabiilillaah). Ketika kita berangkat sekolah, menuju pengajian, menuju diskusi ilmu, dlsb, itu semua telah dihitung sebagai amal ibadah.
Diangkatnya ilmu merupakan salah satu tanda kiamat. Bukan berarti secara langsung Allah mengangkat ilmu dimuka bumi ini, akan tetapi Allah mengankat ilmu ini lewat meninggalnya orang ‘alim (berilmu). Ketika semua orang ‘alim telah tiada, maka bersama itu pula ilmu terangkat dari dunia ini. Dan akhirnya manusia memilih serta mengangkat seorang pemimpin yang tidan berilmu yang akan membawa pada kehancuran.
Mudah-mudahan kita semua tergolong pada golongan yang cinta akan ilmu, hingga ibadah yang kita amalkan bernilai baik serta diterima disisinya. Aamiin,.
wallaahu a’lam,.

Senin, 02 Maret 2015

ForSEI UIN SuKa Berjaya di TemilReg 2015 FoSSEI Yogyakarta




Forum Studi Ekonomi Islam (ForSEI) UIN Suka berhasil menyabet juara pertama di kedua cabang lomba yang dipertandingkan pada Temu Ilmiah Regional (TemilReg) Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) Yogyakarta. Kedua cabang lomba tersebut adalah Olimpiade Ekonomi Islam dimenangkan ForSEI dengan wakilnya Annisa N Salam, Resti, dan Neneng (Mahasiswi Sem 4 Fak FEBI) serta Paper Presentation Contesdimenangkan ForSEI juga dengan wakilnya Ahmad Mubarok, Ihwan, dan M. Taufik Rido (Mahasiswa Sem 4 Fak FEBI).
“Syukur Alhamdulillaah, pada TemilReg kali ini kami memperoleh double winner, ini berkat kerja keras kita semua selama ini, semoga kemenangan ini menjadi penyemangat untuk acara selanjutnya yaitu TemilNas di Semarang nanti” ucap Presiden ForSEI Salahudin ketika acara berakhir.
Temilreg ini merupakan acara tahunan yang diadakan FoSSEI Yogyakarta, untuk tahun 2015 ini diselenggarakan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, Ahad (1/3) kemarin. Peserta yang mengikuti acara ini berasal dari 7 Perguruan Tinggi di Yogyakarta, diantaranya UIN Suka (ForSEI), UNY (CIES), UGM (SEF), UII (IESC dan FKEI), STEI Hampara (ReLIEF), dan STEI Yogyakarta (AsSSET).
Untuk juara kedua dalam Olimpiade Ekonomi Islam adalah SEF UGM, juara ketiganya AsSET STEI Yogyakarta, sedangkan juara kedua dalam Paper Presentation Contes adalah ReLIEF STEI Hampara, juara ketiganya CIES UNY.
“Mengingatkan kembali kepada semuanya acara ini selain sebagai ajang kompetisi, juga merupakan ajang silaturahmi antar Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) SeYogyakarta” kata Master of Ceremony diacara tersebut Ageng Asmara Sani.

Minggu, 08 Februari 2015

Asupan Semangat Menulis dari Seminar 'Cara Gila Menjadi Penulis Kaya'


University Club Uninersitas Gadjah Madha (UC UGM) menjadi tempat sekaligus saksi akan suatu acara seminar yang memberi asupan semangat menulis kepada saya pribadi. Berawal dari ajakan orang yang sangat mengenal saya akan ketertarikan terhadap dunia kepenulisan dari sejak SMP/MTs, namun sekarang sedang mengalami penurunan kinerja entah karena sebab apa saya sendiri pun tidak tahu.
Pagi tadi pukul 09.00 WIB dihari Sabtu (7/2) saya bersama dia serta peserta seminar lainnya telah memadati tempat acara. Tiga orang Narasumber telah hadir dihadapan kami sebut saja Mas Ahmad Bahar (Motivator Gerakan Indonesia Menulis), Mas R. Toto Sugiharto (Penulis Novel) dan Mas Darmawan B.S (Presenter). 
Muncul pertama Mas Darmawan B.S (Mbah Darmo) membuka acara seminar tersebut, dengan gaya kocaknya dia memulainya. Selain Presenter dia juga seorang penulis, kebanyakan tulisannya berkaitan dengan cara membuat sesuatu serta buku bertemakan humor. Setelah menceritakan pengalamannya yang cukup menginspirasi, dia menyebutkan dari status-status yang kita cetuskan di jejaring sosial bisa kita jadikan sebuah buku dengan mengumpulkannya. 
Mas R. Toto Sugiharto menyampaikan bahwasannya dunia kepenulisan itu menuntut kita agar bisa memutar balikan keadaan 'seironi mungkin'. Seperti halnya ia sebutkan Raditya Dika dalam salah satu filmnya 'Kambing Jantan' mampu melakukan itu dengan cukup baik. Ketika Radit berkunjung ke rumah pacarnya dan bertemu dengan bapak pacarnya yang menanyakan pekerjaan Radit dan ia pun menjawab seorang penulis, dengan sepontan bapak itu berkata "pasti kamu orang miskin kan". Padahal kenyataannya Radit orang kaya raya dengan hasil karyanya. Selain itu kita dituntut untuk menjadi orang yang kreatif dan untuk pasar yang paling potensial untuk penjualan buku adalah kepada pembaca yang termasuk usia produktif tentunya dengan buku-buku bertemakan yang bersangkutan dengan mereka. Mencari masalah dan memetakannya ia sampaikan sebagai kunci dalam membuat suatu tulisan. Untuk mencari masalah itu dapat dilakukan dengan berdiskusi. Mempunyai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ia anjurkan untuk mengecek kosakata, juga yang ia sarankan adalah untuk memperbanyak membaca buku sastra.
Mas Ahmad Bahar menyampaikan asyiknya menulis dapat mengakibatkan panjang umur, sarana penyaluran unek-unek, serta kebebasan yang akan kita peroleh. Menulis itu seperti menanam pohon, ketika kita menanam maka kita akan menuai dan merupakan passive incomeEnterpreuneur writing ia serukan tidak hanya menulis saja, akan tetapi dengan itu kita dapat mendapat sesuatu yang lain yaitu pendapatan berupa materi. Beliau akhirnya menyampaikan cara gilanya, yaitu dengan membuat tulisan yang mencuri perhatian, bekerjasama yang baik dengan penerbit, dan SEDEKAH. Di akhir acara ternyata disematkan rangkaian lainnya, yaitu Cover Book Launch Revolusi Mental 1/2 Hati karya Mas Ahmad Bahar sendiri. 
Kurang lebih tiga jam berlangsung, banyak tambahan ilmu yang didapat serta semangat, tidak sia-sia menghadiri acara tersebut, terimakasih banyak yang sudah ngajak. 
Melihat animo peserta yang besar tidak hanya para mahasiswa, ada banyak dosen senior disana juga orang-orang yang bisa dikatakan sepuh ikut andil, hanya untuk tahu bagaimana cara menulis. Itulah salah satu faktor yang membuat hati ini terenyuh, selain itu menjadi tambahan spirit menulis. 'masa kita kalah semangat sama yang sepuh, mereka juga semangat pengen nulis masa kita nggak yang tak sezaman dengan mereka'.
Semoga virus menulis ini dapat tersebar lebih luas lagi kepada setiap orang di Negeri ini khususnya, agar bisa menjadi Bangsa yang maju, khan salah satu faktornya dari jumlah penulisnya, semakin banyak semakin maju.
Semangat menulis!!!